Sosialisme Religius Caknur: Dari NDP Caknur Sampai Pancasila


Sosialisme Religius Caknur: Dari NDP Caknur Sampai Pancasila[1]

Pada paper ini kita akan menjelaskaan konsep pemikiran perubahan sosial Caknur dalam melihat problematika kebangsaan dan keumatan. Konsep perubahan sosial Caknur menggunakan pendekatan sosoial weberrian yang melahirkan etika al-quran. Akan tetapi dalam melihat kompleksitasnya problematika sosial Caknur mulai melihat dan merumuskan teori sosial yang berpradigma moralitas agama. Paradigm ilmu sosial ini disebut dengan sosialisme religious yang melihat keadilan sosial dan keadilan ekonomi sebagai tolak ukur dalam menciptakan kesejahtraan individu dan masyarakat dalam bernegara. Sosialisme religious merupakan upaya pengaktualisasian pancaasila  sebagai dasar Negara yang bersaskan tuhan yang maha esa, prikemanusian, persatuan bangsa, dalam menciptakan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sosialisme religious adalah elaborasi pemikiran antara aspek ideologi sosialis dengan nilai-nilai ajaran agama. Dalam arti aspek ajaran transnden agama harus bisa diterjemahkan kepada aspek yang profan. sehingga perlu dilakukan adalah mengejawantahkan nilai-nilai islam ke dalam bentuk nilai-nilai sosial. Bentuk nilai-nilai sosial seperti kemanusiaan, persatuan, persamaan, persaudaraan, kesetaraan, keadilan, kesejahteraan sesungguhnya merupakan nilai-nilai yang lahir dari nilai ketuhanan (tauhid) maka dari itu baik aspek sosial dan ajaran agama sam-sama memperjuangkannya. Makanya menurut HOS Cokroaminoto tidak perlu adanya pemisahan antara ketuhanan dan sosial, atau antara islam dan sosialisme.

Melihat aspek historisnya sosiolisme religius lahir dari tradisi kristen yang mendapat pengaruh dari tradisi sosialisme marx. Dalam novel berjudul “Quo Vadis”, karya Henryk Sienkiewicz diceritakan Jesus Kristus dijadikan simbol agen sosial of change yang membebaskan kaum nasrani dari belenggu penindasan kekaisaran romawi. Mainstream yesus yang hidup sederhana, dekat dengan orang lemah, miskin, dan sikapnya yang konsisten menentang tatananan kekuasaan yang menindas dalam menegakkan keadilan, diserap dan diaplikasikan oleh Enrico Guiterez dalam Teologi Pembebasan, yang begitu subur di Amerika Latin.

Sosialisme religius sepertinya mengadopsi teologi inklusif sebagi teologi pembebasan yang dapat diadopsi oleh setiap agama agar dapat mengambil spirit dan nilai ajaran agama yang sakral, (transenden) menuju nilai-nilai sosial untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Demikian ajaran agama-agama sifatnya tidaklah ritualansih akan tetapi bisa dipahami dan diamalkan sebagai sumber spirit, sumber nilai yang memotiasi dan menginspirasi setiap langkah gerak nafas kehidupan manusia. Tidak hanya agama islam dan kristen keberadaan agama-agama lain, seperti Budha, Hindu, dan konfusianisme akan bisa ditemukan ajaran yang mengajarkan keadilan sosial dan membela kaum yang lemah. Read More

MAU PLAGIAT?... BELAJARLAH DARI HAMKA

Sinetron Indonesia berjudul Kau yang Berasal dari Bintang yang tayang di RCTI pada Senin (28/4/2014) ditudingmenjiplak drama fenomenal Man From The Stars produksi SBS Korea Selatan. Sinetron yang dibintangi oleh Nikita Willy dan Morgan, eks anggota boyband Smash. Soompi menuliskan sinetron Kau yang Berasal dari Bintang ini, baik lokasi maupun alur cerita, memiliki kesamaan dengan Man from the Stars. Bahkan kalau kita lihat sekilas dari judulnya aja sudah kelihatan sama persis bisa dikatakan itu jiplakan dari terjemahan film tersebut. Anehnya lagi bukannya mengakui salah dan minta maaf malah mau melanjutjan sinetron itu dengan mengubah alur ceritanya. saya baca di (www.solopos.com) Pihak perwakilan RCTI menyatakan telah mengetahui adanya kemiripan dengan sinetron Man From The Star. Oleh karenanya, kini RCTI beserta rumah produksi Sinemart menyatakan akan mengubah judul dan alur sinetron Kau yang Berasal dari Bintang yang telah tayang dua episode tersebut. “Kami sepakat untuk mengubah judul dan ceritanya,” kata Head of Corporate Secretary RCTI Adjie S Soeratmadjie. 

SEJARAH BAHASA ARAB, BAHASA AL-QURAN DAN PENYATUAN BAHASA

Pada dasarnya bahasa lahir seiring dengan lahirnya manusia, dalam studi bahasa, orang berasumsi bahwa manusia sudah mengenal bahasa sejak masa lalu, karena bahasa merupakan simbol yang membedakan antara manusia dari segala jenis ciptaan Allah yang lainnya, bahasa merupakan sebuah sistem yang digunakan manusia untuk berkomunikasi baik secara lisan maupun tulisan, dalam ilmu bahasa yang dimaksud bahasa adalah sistem tanda bunyi yang disepakati untuk dipergunakan oleh para kelompok masyarakat tertentu dalam bekerja sama, berkomunikasi dan beridentifikasi diri.

Sejarah terbentuknya bahasa arab, bahasa dalam keadaanya bersifat abstrak, karena tidak bisa dicapai oleh pengamat tanpa melalui medium buatan, seperti kamus dan buku-buku tata bahasa, kesimpulanya bahasa ialah bahasa lisan, namun setiap bahasa memiliki struktur yang beragam dalam berbagai aspek, terutama dalam rumusan kaidah-kaidah yang terbangun, dan bahkan sampai historis terbentuknya sebuah bahasa tersebut, apakah bahasa tersebut terambil dari sebuah letak geografis atau etnik yang bersangkutan….?

Asumsi-asumsi tersebut hingga sekarang masih sering dipertanyakan para peneliti bahasa secara universal, begitu pula bahasa arab dia merupakan rumpun bahasa semit yang masih tersisa, ia merupakan bahasa yang muncul dari kaum sammiyah, dalam sejarahnya jazirah arab negeri kelahiran agama islam merupakan tanah air bangsa semit. Dalam perjalanan waktu yang cukup panjang, akhirnya keturunan mereka berpindah keberbagai wilayah yang subur, kemudian mereka dikenal sebagai bangsa babylonia, Assyria, phonesia, dan bangsa yahudi. Semula nenek moyang mereka bertempat tinggal di wilayah-wilayah tersebut dalam satu kesatuan. Sekitar 3500 SM, salah satu keturunan semit meninggalkan tanah airnya dan menetap pada suatu lembah diantara sungai tigris dan euprat yang pada saat itu wilayah lembah ini telah dihuni oleh bangsa yang telah mengenal peradaban, yakni bangsa sumeria. Pertemuan mereka dengan bangsa sumeria pada akhirnya melahirkan suatu peradaban besar.

Dewasa ini, apa yang disebut bahasa-bahasa semit dapat digolongkan sebagai berikut:

a.       Setengah kawasan bagian utara :

Timur   : Akkad atau Babylonia; Assyria

Utara   : Aram dengan ragam timurnya dari bahasa Syria, Mandaca, dan Nabetea serta ragam baratnya dari Samaritan, Aram Yahudi, dan Palmyra

Barat   : Phonesia, Ibrani Injil, dan dialek kanaan lainnya

b.      Setengah kawasan bagian selatan :

Utara     : Arab

Selatan  : Sabca atau Himyari, dengan ragam dari dialek Minaea, Mahri, dan Hakili; dan Geez atau Etiopik, dengan ragamnya dari dialek Tigre, Amharik dan Harari

Dari semua bahasa Semit di atas kini telah punah kecuali bahasa Arab. Ketidakpunahan bahasa Arab ini disebabkan faktor kekuasaan dan faktor arabisasi. Faktor kekuasaan yang dimaksud adalah penghuni jazirah Arab yang meliputi tiga kelompok besar bangsa Arab yaitu:

     Arab ‘Ariba atau Badia (Les Arabes Primaires) seperti: kaum Ad, Tsamud, Amalik, Tasm, Bani Yadis, Kusyit, dan lain-lain.
    Arab Muarriba (Les Arabes Secondaires) seperti: Bani Kahtan, atau Yoktan bin Heber, Bani Himyar, dan lain-lain.
    Arab Musta’rib (Les Arabes Tertiaires) seperti: keturunan dari Nabi Ismail bin Ibrahim as. Termasuk di dalamnya suku Quraisy.


Dari ketiga golongan besar bangsa Arab, pada akhirnya golongan yang ketiga atau Arab Musta’rib yang berkuasa. Lagi pula keturunan Nabi Ismail yang menguasai kota Makkah dan yang memelihara ka’bah.

Apabila ingin mengetahui asal-usul suatu bahasa, tampaknya perlu mengetahui asal bangsa yang menjadi penutur utama bahasa tersebut. Hal demikian adalah karena bahasa itu dilahirkan oleh suatu masyarakat penggunanya dan pengguna bahasa itu membawa bahasanya ke manapun ia pergi. Kadang kala bahasa tersebut secara utuh terus dipertahankan oleh pemakainya, juga tidak sedikit yang melakukan perubahan, mengadaptasi dengan tempat atau situasi mereka tinggal, dimana ia bergaul dengan etnik-etnik lain yang memiliki bahasa berbeda. Perubahan bahasa biasanya akan terjadi oleh adanya perubahan generasi, dimana antara generasi terjadi asimilasi sehingga melahirkan model dan bentuk generasi baru dengan gaya bahasa atau karakter budaya yang relatif berbeda dari generasi sebelumnya. Bahkan tidak sedikit bahasa yang mati karena ditinggal oleh pemakainya.Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor politik seperti penjajahan yang menginvansi suatu wilayah bahasa, kemudian menggantikannya dengan bahasa si penguasa.

Banyak faktor yang menyebabkan mati dan hilangnya suatu bahasa dari setiap etnik, baik karena faktor politik kekuasaan, misalnya pelarangan menggunakan bahasa dari elite penjajah yang sedang berkuasa, hancurnya satu generasi etnik sebagai pengguna bahasa akibat fenomena alam seperti kaum Ad dan sebagainya (Thohir,  2009: 56):

"Sedang faktor arabisasi berkata (Hana al Fakhuri, Tt: 5):

والعربية من أحدث هذه اللغات نشأة وتاريخاً ولكن يعتقد البعض أنها الأقرب إلى اللغة السامية الأم التي انبثقت منها اللغات السامية الأخرى، وذلك لاحتباس العرب في جزيرة العرب فلم تتعرّض لما تعرَّضت له باقي اللغات السامية من اختلاط"

Arabisasi yang dimaksud di sini adalah bangsa Arab yang masih bertahan berbaur dengan bangsa lain sehingga melahirkan pergumulan bahasa antar bangsa yaitu berbaurnya suku pribumi dengan suku yang datang dari selatan. Selain pergumulan bahasa, perkawinan antar suku juga berakibat pada proses terjadinya arabisasi.

Bangsa arab mempunyai mata pencaharian berdagang dengan mengambil tempat di suatu tempat yang strategis dalam hal ini di kota Makkah (yang dikuasai oleh suku Quraisy), dimana di sana merupakan tempat berkumpulnya berbagai suku bangsa melakukan ibadah haji sekaligus mengadakan perdagangan. Sehingga transformasi sosial masyarakat terjadi lebih intens.Di sini bertemu berbagai elemen masyarakat dari berbagai daerah, sehingga pertukaran budaya tak terelakkan.

Kebiasaan bangsa Arab yang lain adalah mengadakan perlombaan membuat puisi yang terbaik akan diumumkan dan digantung di Ka’bah. Isi dari puisi biasanya sekitar kepahlawanan seseorang, kejayaan suatu suku, namun bisa juga bersifat ejekan. Hasil dari karya tersebut kemudian diperlombakan dalam suatu even yang menarik.

Dari pergumulan suku bangsa melalui transaksi perdagangan dan perlombaan membuat puisi juga terjadi pergumulan bahasa antar suku bangsa baik bangsa Arab maupun bangsa bukan Arab (‘ajam).Di sinilah terlahir berbagai ungkapan-ungkapan bahasa baru yang mungkin sumber atau akar katanya bukan berasal dari bahasa Arab, kemudian menjadi atau dianggap sebagai bahasa Arab. Dari pergumulan bahasa ini memunculkan bahasa Arab standar (fusha). Dan dari standarisasi bahasa Arab itulah para ahli puisi, ahli sastra menggunakannya dalam membuat puisi yang diperlombakan.

Bertitik tolak dari sejarah dan kultur suku bangsa Arab di atas, di mana telah terjadi pergumulan bahasa hingga memunculkan bahasa standar, maka pada waktu itu Allah Swt. menurunkan al Quran berbahasa Arab standar. Bahasa arab merupakan bahasa al-Qur’an dan dipakai semua penduduk jazirah Arabia dan sabit subur yang berdampingan langsung dengan jazirah Arabia seribu tahun sebelum islam. Sayangnya sangat sedikit catatan tertulis mengenai hal ini sebelum islam, dan tradisi lisan menyajikan sempurna dan lengkap dalam perkembangannya ketika al-Qur’an diwahyukan. Diturunkannya al Quran berbahasa Arab dari penjelasan di atas adalah berkaitan erat dengan kondisi historis bahasa Arab yang telah terakumulasi dengan baik menjadi bahasa Arab standard yang didukung oleh kekuasaan suku Quraisy sebagai suku nenek moyang Nabi Muhammad SAW. Sehingga boleh dikatakan terdapat benang merah antara pemilihan bahasa Arab standard (Quraisy) sebagai bahasa al Quran dengan faktor politik kekuasaan suku Quraisy.Bisa dipahami bersama bahwa bahasa Arab Quraisy dipilih oleh Allah SWT dalam rangka membantu para Rasul untuk menyampaikan dan menjalankan misi sucinya bersama kaum dan pengikutnya.

Jadi berkaitan dengan pergumulan bahasa antara bahasa Arab dengan bahasa lain bahwa yang dimaksud dengan ‘lisan Arab yang nyata’ itu adalah bahasa suku Quraisy. Atau meskipun terdapat kata-kata dalam al Quran yang bukan berasal dari suku Quraisy, namun tetap dikategorikan bahasa Arab atau bahasa yang di-arabkan.

Dengan demikian bahasa Arab dari Utaralah yang dapat bertahan karena dukungan aspek politik dan arabisasi yang dilakukan. Dari sinilah cikal bakal terakumulasinya bahasa standard (fusha) yang diakibatkan oleh pergumulan bahasa yang terjadi di kota Makkah dalam hal ini bahasa Arab Quraisy. Dari sistem politik yang di anut oleh suku Quraisy meski tidak mencerminkan kekuasaan obsolut yang dapat mengikat suku bangsa yang lain menampakkan  benang merah yang menunjukkan kaitan antara faktor kekuasaan dan terpilihnya bahasa Arab (Quraisy) menjadi bahasa al Quran.

ILMU KE-ADAB-AN DAN PERANANYA DALAM PERADABAN GLOBAL[1]


Al-Qur'an adalah wahyu Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, dirinya sendiri dan lingkungannya. Wahyu itu diturunkan sebagai petunjuk menuju jalan yang benar. Didalamnya terdapat sumber kehidupan, ilmu pengetahuan, kebudayaan, sosial, peradaban, hukum, moral, kebijaksanaan, yang bagi siapa yang menggalinya akan mendapatkan kebahagiaan. Wahyu itu bukan semata-mata jamuan spiritual (ma'dubah) yang terbaik bagi ummat manusia akan tetapi jamuan untuk seluruh alam semesta (rahmatan lil alamin).

Al-Quran sebagai kitab wahyu agama islam merupakan sumber pengetahuan bagi manusia dan menghargai akal sebagai potensi kecerdasan manusia dalam membaca wahyu tersebut.  Agama islam tidak pernah mengklaim wahyu Tuhan sebagi satu-satunya sumber pengetahuan dan melupakan kecerdasan manusia, atau sebaliknya yang menganggap akal pikiran manusia sebagai satu-satunya sumber ilmu pengetahuan dan melupakan Tuhan. Jadi sumber pengetahuan islam itu ada dua macam yakni berasal dari wahyu allah dan berasal dari akal pikiran manusia, dengan kata lain teoantroposentrisme.

Perayaan Sekaten Keraton Yogyakarta: Antara Tradisi, Dakwah, Dan Pasar


Pada tahun 1939 Caka atau 1477 Masehi, Raden Patah selaku Adipati Kabupaten Demak Bintara dengan dukungan para wali membangun Masjid Demak. Selanjutnya berdasar hasil musyawarah para wali, digelarlah kegiatan syiar Islam secara terus-menerus selama 7 hari menjelang hari kelahiran Nabi Muhammad S.A.W. Agar kegiatan tersebut menarik perhatian rakyat, dibunyikanlah dua perangkat gamelan buah karya Sunan Giri membawakan gending-gending ciptaan para wali, terutama Sunan Kalijaga.

Setelah mengikuti kegiatan tersebut, masyarakat yang ingin memeluk agama Islam dituntun untuk mengucapkan dua kalimat syahadat (syahadatain). Dari kata Syahadatain itulah kemudian muncul istilah Sekaten sebagai akibat perubahan pengucapan. Sekaten terus berkembang dan diadakan secara rutin tiap tahun seiring berkembangnya Kerajaan Demak menjadi Kerajaan Islam.

MEMBANGUN KONFIDENSI-DIRI KADER DALAM BER-HMI: IKHTIAR MEWUJUDKAN KADER BERKUALITAS LIMA INSAN CITA





1.     KONFIDENSI-DIRI KADER         
Konfidensi-diri[1] adalah makna general (positif) tentang kemampuan orang dalam meraih apa yang perlu dicapai. Ini berisi beberapa sub-elemen. Self-esteem adalah kepedulian positif ke kemampuan diri sendiri dalam hal ini kader dan orang lain dalam sebuah nalar umum. Self-esteem yang baik bisa membantu selama fase pembelajaran yang canggung, fase pembentukan pola pikir, pola tingkah dan pola laku  diri kader. sebelum penguasaan pengetahuan, ilmu, karakter dan skill baru. Self-efficacy adalah keyakinan bahwa orang memiliki kemampuan spesifik yang dibutuhkan atau kemampuan untuk bekerjasama dengan orang lain yang memiliki kemampuan tersebut. Ini adalah aspek konfidensi-diri yang banyak dipengaruhi oleh pelatihan, pengalaman, penelitiaan dan kerja-kerja kemanusian. Keyakinan Self-efficacy membantu kader dalam mentukan idealism perjungannya berorganisasi dan kemampuan berinteraksi sosial secara konfiden serta melakukan trasformasi social dalam membumikan kejuangan HMI[2].

REKONSTRUKSI ANTROPOLOGI PENDIDIKAN ISLAM

BAB I

PENDAHULUAN
Antropologi pendidikan mulai menampilkan dirinya sebagai disiplin ilmu pada pertengahan abad-20. Pada waktu itu banyak pertanyaan yang diajukan kepada tokoh pendidikan tentang sejauhmana pendidikan dapat mengubah suatu masyarakat. Sebagaimana diketahui pada waktu itu negara maju tengah mengibarkan program besarnya, yakni menciptakan pembangunan di negara-negara yang baru merdeka. Antropologi pendidikan berupaya menemukan pola budaya belajar masyarakat yang dapat menciptakan perubahan sosial. Demikian juga mengenai perwujudan kebudayaan para pengambil kebijakan pendidikan yang berorientasi pada perubahan sosial budaya mendapat perhatian.

PEMBAHARUAN ILMU NAHWU: KAJIAN EPITEMOLOGIS



Al-Jabiri dalam salah satu bukunya yang sangat terkenal ”Takwîn al-Aql al-Arabi” menyatakan bahwa “jika filsafat disebut sebagai mukjizat bangsa Yunani, maka pengetahuan tentang bahasa adalah mukjizat bangsa Arab. Menurutnya, sumbangan terpenting bangsa Arab terhadap peradaban yang diwariskan kepada dunia adalah “agama dan bahasa”. Keduanya saling terkait erat dan tidak dapat dipisahkan. Munculnya berbagi perselisihan mazhab, baik dalam fikih maupun kalam jika dicermati, diantaranya, juga disebabkan oleh bahasa, dalam hal ini adalah masalah interpretasi teks (bahasa) al-Qur’an. Begitu pula dalam perselisihan politik, meskipun berlatar belakang sosial, ekonomi dan golongan, namun adakalanya pula timbul dari soal pemahaman teks (bahasa) agama.download here

PENGARUH FILSAFAT TERHADAP NAHWU: PRO-KONTRA PENGARUH FILSAFAT TERHADAP NAHWU



Wacana keterpengaruhan nahwu oleh filsafat disamping mendapat dukungan dari beberapa penulis Arab sendiri, juga mendapat sanggahan dari sebagian ahli lainnya. Al-Sâmirâ’i, misalnya seperti dikutip Abdul Ghaffâr, mengkritik Ibrâhim Salâmah Mazkûr sebagai telah melakukan kesalahan dalam menentukan kronologi waktu. Menurutnya, tidaklah mungkin Khalil terpengaruh oleh Ishâq bin Hunaîn yang menguasai bahasa Yunani sekaligus sebagai penerjemah, juga dikatakan pernah berguru nahwu pada Khalil itu. Sebab antara keduanya tidak hidup dalam semasa, Khalil meninggal sekitar tahun 180 H, sedang Ishaq lahir sebelum tahun 194[23]. Lagi pula, kata Samira’i, antara bahasa Arab dan Yunani memiliki karakter yang berbeda. Ahmad Mukhtar bahkan secara tegas menyatakan bahwa tidaklah masuk akal jika bangsa Arab ketika menyusun kaidah bahasa mereka dikatakan meniru pola kaidah bahasa Yunani. Jika terjadi kemiripan atau kesamaan dalam soal pembagian kalimat atau terminologi, misalnya, belum dapat dijadikan sebagai bukti asumsi di atas. Sebab adanya pembagian kalimat seperti itu tidak hanya terjadi pada bahasa Yunani saja, tetapi terjadi pada bahasa bangsa-bangsa lain seperti India misalnya.[24] download here

KEPRIBADIAAN TOKOH UTAMA ABU RIH DALAM CERPEN ABU AR-RIH KARYA HASAN IBRAHIM NASIR (ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA)


BAB I 
LANDASAN TEORI PSIKOLOGI SASTRA
A.    Teori Psikologi Sastra
Psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang berkaitan dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam sastra. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra sebab semata-mata dalam diri manusia itulah aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Penelitian psikologi sastra dilakukan melalui dua cara. Pertama, melalui pemahaman teori-teori psikologi kemudian diadakan analisis terhadap suatu karya sastra. Kedua, dengan terlebih dahulu menentukan sebuah karya sastra sebagai objek penelitian, kemudian ditentukan teori-teori psikologi yang dianggap relefan untuk melakukan analisis.[1]DOWNLOAD HERE

Kritik Sastra Feminis Cerpen Lailatu Az-zafaf Karya Taufik El-Hakim


BAB 1
PENDAHULUAN
1. Latar belakang Masalah
Sastra merupakan segala aktivitas manusia atau prilakunya, baik yang berbentuk verbal maupun fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Aktifitas itu berupa fakta manusia yang melahirkan aktivitas social tertentu, aktivitas politik tertentu, maupun kreasi cultural seperti filsafat, seni rupa, seni gerak, seni patung, seni music, seni sastra dan yang lainnya. Setiap kita hidup dan beraktivitas, kita tidak sadar bahwa sebenarnya dunia sastra sangat berkaitan erat dengan kita semua. Teuw pernah berpendapat bahwa sastra berada dalam urutan keempat setelah agama, filsafat, ilmu pengetahuan, sebagai disiplin ilmu ia menempati posisi keempat karena menurut hemat penulis ke empat bidang tersebut saling bertransformasi dan merugulasi diri (self regulating) bidang mereka masing masing.download here

Teori Psikologi Sastra


Secara umum yang dimaksud dengan teori adalah suatu system ilmiah atau pengetahuan sistematik yang menetapkan pola pengaturan sistematik serta menetapkan pola pengaturan hubungan antara gejala-gejala yang diamati. Teori berisi konsep/uraian tentang hokum-hukum umum atau objek ilmu pengetahuan dari suatu titik pandang tertentu. Suatu teori dapat dideduksi secara logis dan dicek kebenarannya (diverivikasi) atau dibantah keshahihannya (diklasifikasikan) pada objek atau gejala-gejala yang di amati tersebut. Dalam hal ini tugas teori sastra adalah menetapkan prinsif-prinsif, kategori-kategori dan criteria mengenai sifat sastra pada umumnya dengan memanfaatkan hasil-hasil kritik dan sejarah sastra.download here

IDEOPOLSTRATAK SEBAGAI METODE PERJUANGAN DALAM WUJUD GERAKAN SOSIAL HMI

PENDAHULUAN

Sudah sekian lama himpunan ini menyimpan kata-kata ‘perjuangan’ dalam kotak besi yang tertutup rapat-rapat. Perjuangan memang ada, tetapi perjuangan yang dimaknai secara individual dan berbentuk mobilisasi vertikal; menjadi pengurus cabang, menjadi pengurus PB, menjadi staf menteri, menjadi anggota dewan, menjadi menteri dan seterusnya. Jarang kita dengarkan, anggota himpunan ini berbaris rapi bersama para pedagang kaki lima untuk menolak penggusuran. Jarang kita lihat, anggota himpunan ini berserak ke masjid-masjid kampung, berdakwah tentang ketidakadilan sosial dan penindasan. Jarang kita saksikan, anggota himpunan ini berpeluh-peluh bersama petani, buruh untuk berdiskusi, mengorganisir, membela atau sekedar merasakan penderitaan rakyat. Bahkan, jarang pula kita dengarkan anggota himpunan ini sekedar berdiskusi tentang problem-problem rakyat, masalah-masalah kebangsaan dan keislaman.download here

Semantik dan Semiotik



1.       Apa perbedaan semiotika dan semantik? Jelaskan? 

Semiotika berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda secara umum seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Semiotika biasanya didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Sedangkan tokoh yang merumuskan teori ini ada dua yakni Charles sander pearce tentang hubungan triadic antara ikonitas, indeksitas dan simbolitas dengan istilah semiotika dan sedangkan Ferdinand Saussure melalui dikotomi sistem tanda: signified dan signifier atau signifie dan significant yang bersifat atomistis.  Saussure dengan istilah semiologi.download here

Islam dan Nasionalisme


       A.     Latar Belakang Masalah
Sebelum Negara Indonesia terbentuk pada 17 Agustus 1945, bentuk pemerintahan adalah kerajaan-kerajaan. Awal abad ke-16 bangsa Eropa seperti Belanda mulai masuk ke Indonesia dan terjadilah perubahan politik kerajaan yang berkaitan dengan perebutan hegemoni. Kontak dengan bangsa Eropa telah membawa perubahan-perubahan dalam pandangan masyarakat yaitu dengan masuknya paham-paham baru, seperti liberalisme, demokrasi, nasionalisme. Hingga sampai akhirnya Indonesia dapat menumbuhkan jiwa Nasionalisme dan bersatu untuk merdeka.download here