Fakta atau Fiksi Kisah Laila dan Majnun

Sebuah genre novel yang ditakdirkan laris sepanjang sejarah, di baca dan dikaji oleh banyak insane termasuk kritikus sastra dari berbagai lapisan Negara secara trus menerus, dari generasi ke genersi, yang kisahnya termashur dari timur sampai barat yang abadi sepanjang masa yakni kisah romance laila majnun atau Qays dan laila. Tiada kisah cinta yang lebih gila seperti kisah cintanya majnun terhadap laila yang bermarga amir ini. Tiada banyak kisah yang mempunyai banyak versi yang banyak diterjemahkan, dialih bahasakan kebanyak bahasa lain, tiada banyak kisah yang kisahnya mempengaruhi banyak kisah cinta lain kecuali kisah si gila majnun terhadap laila.

Qays bin bin al mulawah (majnun) merupakan tokoh sentral kisah ini bukanlah sebuah tokoh rekaan yang diciptakan syeh nizami, ataupun sebuah tokoh yang lahir dari imaji dan inspirasi penulis hebat ini, ia benar-benar hidup pada masa dinasti muawiyah, menurut sebuah riwayat ia meninggal sekitar 6/8 H dengan membawa cinta membara kepada sang kekasihnya yang terhalangi oleh adat dan keangkuhan bani amir. Saat meninggal kesepiaan melandanya ia terkucilkan seorang diri, tidak ada setetespun air mata yang tumpah untuk meratapi kepergiaannya, tiada hati yang berduka karena kepergiannya menghadap sang maha kuasa, semua itu karena kecintaan nya kepada laila yang namanya setiap saat ia ucapkan, mungkin sampai ajal menjemput yang ia cap hanyalah laila, laila dan laila. Sebagian lain berpendapat bahwa qays adalah penyair besar dizamannya yang terkenal dengan qosidah udzriyahnya.



Sepeninggalnya Qays, kisah cinta mereka (laila wa majnun) diceritakan dari murut kemulut secara oral ataupun dalam bentuk syair, mengingat tradisi bangsa arab merupakan tradisi lisan, banyak dari mereka yang ummi tidak bias membaca hanya sebagian kalangan saja yang bisa baca tulis, jadi tidak aneh jikalau banyak versi akan kisah itu, sehingga syeh nijami(1141-1209) pada th 1118 M menghimpun kisah itu, dan menuis kisah itu sehingga sampai pada kita sekarang. Selain nizami banyak orang yang menghimpun kisah cinta mereka dalam bentuk antologi syair cinta laila majnun tetapi hanya karya nizamilah yang banyak dipercaya keorisinilitasannya yang berasal dari Ganjavi sekarang ujbeikistan yang lengkap dan sempurna.

Beberapa ahli sejarah sependapat dalam asal muasal penceritaan tokoh tersebut yakni laila dan majnun, sebagian berpendapat bahwa mereka saling mengenal semenjak anak anak sejak kedua insane itu berternak dan mengembala di bukit tsauban. Sebagian lagi berpendapat bahwa qays berjalan kedepan perkumpulan sekelompok gadis saat itu ia melihat laila amiriyyah yang cantik dan menarik hatinya kedalam lautan asmara, kemudian disana banyak gadis yang mengajak qays berbicara tapi tak seorangpun yang menarik perhatiannya hanya lailalah yang berhasil menjerat qays pada pandangan pertama. Sebagian lagi ada kabar bahwa di kabilah Qhatibiah (laila), kemudian ia bertemu dengannya dan langsung jatuh cinta.

Walaupun terjadi perbedaan dari segi tokoh riwayat penokohanya namun yang perlu dicatat bahwa para ahli sejarah dan kritikus sepakat tentang satu hal yakni kisah cerita mereka bukan lah ceita fiktif namun kisah cinta mereka memang benar-benar terjadi dan ada dalam sejarah. Hanya toha husainlah yang meragukan data-data histories tersebut, kritikus sastra ini meragukan akan adanya dua tokoh sentral yang ada pada kisah ini (qays dan laila) bahkan ia hamper tidak percaya akan adanya kedua tokoh terebut ada di dunia ini, keraguannya tersebut beranjak dari ketidak sesuaiannya nama Qays dan laila dari beberapa versi yang ada singkatnya apabila kedua tokoh sentral tesebut memang benar-benar ada dan hidup di dunia ini maka sejarah akan sepakat soal nama, hingga tidak terlahir perbedaan dan banyak versi.

Kisah cinta qays kepada laila bukanlah seperti kisah biasasnya yang bersifat duniawi yang banyak memuji kecantikan kewanitaan secara dhahir. Atupun memujanya dan rela berkorban untuk cintanya sepeti kisah cinta yang ada, melainkan ada isi menarik yang membuat karya ini bertahan berabad-abad, baik itu dalam kisahnya terdapat pengalaman sufistik yang hakiki dengan sang khalik atau pun gaya penulisan nizami yang artstiktik kendati banyak kisah yang sama tetapi kisah ini syarat dengan moral yang baik dan banyak nilai pelajaran yang bisa di ambil dari kisah ini. Kendati pada akhirnya ia di butakan oleh cintanya yang mum buat ia gila sehingga ia di juluki si majnun pada kisah ini. Menurut syeh mashudin sa’di shirazi kisah cinta mereka merupakan kisah cinta yang dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnyanya kekuatan cinta qays kepada laila, sehingga indra matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu,pikirannya menjadi cheos kacau, semuahnya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada laila, didalam hidupnya ada laila, harta, jabatan penghormatan, semuanya jadi sirna karena totalitas kebaikan, kecantikan, kedermawanan dansebadainya itu sirna oleh cintanya kepada laila.

Ketika seseorang dilanda asmara kepada seorang wanita dalam benaknya tiada wanita yang paling cantik kecuali wanita yang ia kasihi, memang di dunia ini tidak ada wanita yang kecantikannya sempurna, khalil Gibran bependapat tiada wanita yang cantik dan sempurna di dunia ini kecuali ada pada imajinitas kecantikan kekasihnya sendiri dan wanita yang sempurna ada dua yakni yang satu ada dalam angan –angan dan yang seorang lagi belum lahir. . Menurut syeh mashudin sa’di shirazi kisah cinta mereka merupakan kisah cinta yang dahsyat sepanjang masa yang menggambarkan betapa besarnyanya kekuatan cinta qays kepada laila, sehingga indra matanya, pikiran, perasaan, dan imajinasinya terpengaruh. Matanya menjadi buta, akalnya menjadi terganggu,pikirannya menjadi cheos kacau, semuahnya tertuju kepada satu yakni cintanya kepada laila, didalam hidupnya ada laila, harta, jabatan penghormatan, semuanya jadi sirna karena totalitas kebaikan, kecantikan, kedermawanan dansebadainya itu sirna oleh cintanya kepada laila.

Kalau kita melihat lebih dalam dalam kisah novel laila majnun disini ada sebuah keteguhan yang dimiliki tokoh sentral yakni Qays dalam memperjuangkan cinta sucinya kepada laila, bias saja menurut asumsi saya laila itu gadis biasa yang kecantikannya tidak lebih dari artis-artis jaman sekarang tetapi akan salah kalau kita melihat kecantikan laila dari kacamata itu, kalau kita melihat kecantikan laila dari kacamata majnun akan lain halnya, sehingga rahasia daya tarik laila akan bias terungkap, itu memberikan suatu prespektif kepada kita bahwa qays mencintai laila bukan hanya dhahirnya saja tetapi esensenya juga biar totalitas daya tarik laila bias terungkap ataupun bisa jadi laila adalah seorang penyair yang handal, cerdas, dan mempunyai kharisma lain yang membuat qays tertarik disamping itu juga ia seorang penyair maka tidak salah kalau qays rela meninggalkan kebahagiaan dunia menuju penderitaan cinta yang menyebabkan tak ada bedanya dengan seekor binatang yang kelaparan di tengah tandusnya padang pasir, tak ada yang mau peduli hingga ajal menjeput tak ada yang mau memperdulikannya.


0 komentar:

Poskan Komentar