Orentalisme Dalam Teori Postkolonial

Secara etimologi kata postkolonial berasal dari penggalan kata post dan kolonial, sedangkan kata kolonial tersebut berasal dari kata colonia, bahasa Romawi, yang berarti tanah pertaniaan atau pemukiman. Jadi secara etimologi kata kolonial itu tidak mempunyai arti menjajah, penjajah, penguasa, kepandudukan ataupun konotasi negatif tentang eksploetasi lainnya. Kanotasi negatif diatas muncul sesudah munculnya interaksi yang tidak seimbang antara penduduk pribumi yang dikuasai dengan penduduk penguasa yang menjadi penjajah/penguasa. Atau menurut pengertian terakhir adanya konsep sentriputal (penjajah yang menjajah) dan sentri pugal (yang dijajah). Sebagai asal muasal lahirnya teori ini secara historis berkembang dari wacana naratif ketika bangsa eropa modern ingin menduduki negara-nedara timur mulai sekitar abad 16, melalui tiga semboyan utama mereka yakni Gold, Glory dan Gospel. Sedangkan secara aplikatif, Teori ini lahir sesudah kebanyakan negara-negara terjajah memperoleh kemerdekaan secara totalitas dari penjajah. Teori ini mencakup seluruh aspek khazanah sastra nasional yang telah mengalami kekuasaan imperial sejak awal imperialisasi bangsa eropa hingga sekarang. Kalau melihat wilyah jajahannya dari benua afrika hingga asia sudah termasuk dalam imperialis eropa, sejak tahun 1930-an saja bentuk kolonialisme dan imperialisme bangsa Eropa sudah mencapai 84,6% dari permukaan bumi, perlu dicatatat wilayah yang tidak termasuk dalam dan tidak pernah di kuasai pemerimtahan colonial eropa hanya bagiaan arab, Persia, Afganistan, mongoloa, Tibet, cina dan jepang. Dengan demikiaan teori ini lebih rekevan disebut kritik lintas budaya sekaligus wacana yang ditimbulkannya. Tema-tema yang dikaji sangat luas dan mendalam meliputi hampir seluruh aspek kutural seperti; polotik, idologi, agama, pendidikan, sejarah, antropologi, keseniaan, ekonomi, etnisitas, bahasa dan sastra. Sekaligus dengan bentuk praktik dilapangan seperti; perbudakan, pendudukan, pemindahan penduduk, pemaksaan bahasa dan berbagai invansi kultural lainnya. Pluralitas tema diatas disatukan dalam sebuah kajiaan tema yang sama yakni kolonialisme.



Dikaitkan dengan tori postmodernsme lahirnya teri post kolonial sangat sulit untuk di lacak kapan mulanya karena mengingat teoiri ini masih relatif baru. Menurut Shelley Walia proyek postkolonialisme pertama ditemukan oleh \fraz Fanon dengn bukunya yang berjudul black skin and the Wrethed of the earth. Ia merupakan seorang psikiater yang mengembangkan analisis yang sangat komprehensif dalam mengenai dampak psikologis dan sosiologis yang ditimbulkan oleh kolonilisasi. Yang menimpulkan bahwa melalui dikotomi kolonial, penjajah-terjajah, wacana oriental, yang telah melahirkan aliansi dan marginalisasi psikologis yang sangat dahsyat. Teori yang terkenal daam mengkaji post kolonialisme adalah sebuah pendekatan yang ditawarkan oleh Edward Said seorang pemikir dari madhab anglo amerika dalam bukunya yang berjudul Orientalisme. Yang dimaksudkan dengan teori postkolonial tersebut adalah teori yang digunakan untuk menganalisis berbagai gejala kurtural seperti; politik ekonomi, sejarah, sastra dll yang terjadi dibekas jajahan koloni eropa modern. Secara global gejala kultural tersebut terkandung dalam berbagai teks-teks studi tentang dunia timur yang ditulis oleh para orientalis yang disebut dengan teks-teks oriental (berasal dari kata orien yang berarti timur). Hal ini jelas akan menghasilkan suatu akibat yang sangat positif bagi dunia barat karena dengan banyaknya teks-teks yang di tulis atau diteliti oleh kaum orientalis satu sisi akan mengukuhkan dominasi intelektualitas dan peradaban mereka ataupun pada sisilainnya akan terjadi ketidak seimbangan antara teks-teks yang di tulis oleh kaum pribumi yang terkonstruksi oleh pemikiran barat, ada jurang pemisah disana yang melukiskan ketidak seimbangan hubungan antara dunia timur dan dunia barat. Lebih mengurucutnya dalam dunia sastra visi postklonialis adalah teori ini menganalisis teks-teks karya sastra tidak hanya dengan menggunakan unsur-unsur oriental, melainkan bagaimana unsur-unsur tersebut ditampilkan secara estetis dalam karya teks. Yang lebih dominan dirasakan dalam orientalisme adalah menelusuri pola-pola pemikiran kelompok orientalis dalam rangka membangun superioritas barat, dengan konsikuensi logis terjadinya inferioritas timur. Oleh karena itu sasaran postkolonial adalah subjek kolektif intelektual barat, kelompok oriental menurut prefektif Edward Said.

Setelah negara-negara pribumi lepas dari penjajahan dan merdeka maka ia memperoleh kebebasan untuk mengemukakan pendapatnya, berfikir, berkarya, bertindak secara hakiki bebas sebenar-benarnya dalam segala bidang. Maka dari itu lahirlah ide untuk memajuakan bangsanya masing-masing, demikian juga untuk menemukan teori-teori yang relevan. Dalam analisis ini, disamping konsep global dalam kaitannya denga modernisme, peneliti harus memperhatikan kekhasan dalam kaitan dengan objek kajiaan penelitiaan wilayah yang menjadi objek kajiaan yang diteliti. Oleh karena itu, teori postkolonial melibatkan 3 pengertiaan yaitu:Rata Penuh
1. Abad berakhirnya emperium kolonial diseluruh dunia.
2. Segala tulisan-tulisan/teks-teks yang berhubungan dengan pengalaman-pengalaman kolonial
3. Teori-teori yang digunakan untuk menganalisis masalah-masalah paska kolonialisme.

Melihat dari keberhasilan eropa modern dalam menguasai koloni-koloninya tidak semata-mata karena kekuasaan fisiknya. Dalam hal ini justru ada kekuatan yang berperan yakni wacana (diskursus). Demikianlah kaum intelektual barat mengembangkan proyek kaum bangsa timur yang disebut orientalisme. Dengan melihat kajian bangsa timur melihat aspek kelebihan dan kekurangannya sehingga mudah dikuasai. Sebagai penjajah yang dengan sendirinya telah mempersiapkan tujuaan-tujuannya tertentu, maka ilmu pengetahuan , terjemahan-terjemahan, dan studi lainnya yang dihasilkannya, termasuk karya sastra tidak secara keseluruhan mengandung objektivitas yang sesungguhnya mengalami bias kultural. Deskripsi tentang teks-teks oriental dan analisisnya bersifat berat sebelah sehingga barat tetaplah barat dan timur semakin jauh ketimur. Pengetahuaan tentang timur tidak pernah menjadi asli sebab yabg menceritakannya adalah orang orang yang mempunyai hubungan erat dan memiliki kepentingan-kepentingan khusus terhadap kolonialisme. Maka sudah jelas akan terjadi objektivitas, objektivitasnya disini adalah objektivitas menurut pemikirannya sendiri yakni pemikiran bangsa barat. Lebih dari itu Said menegaskan karya karya kelompok orientalis sebagai teks-teks predatoris, yang secara perlahan-lahan akan akan menghisap kekuatan bangsa timur. Orientalisme dengan demikian tidak terbatas pada pengetahuaan, melainkan sebagai kekuasaan.

Analisis wacana postkolonialis untuk menelusuri aspek-aspek yang tersembunyi atau sengaja disembunyikan sehingga dapat diketahui bagaimana kekuasaan itu bekerja, dipihak lain membongkar disiplin, lembaga, dan idiologi yang mendasarinya. Dalam hubungan inilah peranan bahasa, sastra, budaya yang pada umumnya dapat memainkan peranan sebab didalam ketiga gejala tersebutlah terkandung wacana yang diintesikan oleh kelompok kolonialis. Said dalam orientalismenya lebih cendrung memberikan otokritik terhadap barat secara totalitas, menrut said dekonstruksi terhadap wacana kolonialis penting untuk menyadarkan bangsa eropa. Tambah beliau, para orientalis dalam menganalisis teks-teks atau kebudayan timur secara global penuh dengan bias kutural, sekaligus memunculkan asumsi bahwa masyarakat barat dinamis sedangkan bangsa timur statis, barat memiliki cirri-ciri maskulin sedangkan timur feminism dan masuhy banyak lagi asumsi-asumsi lainnya yang menghapuskan sebuah fakta bahwa barat bias seperti ini merup[akan berhutang dari kebudayaan timur. Studi wacana colonial, dengan mengkoreksi kembali naskah/teks dan praktek cultural yang penuh dengan kekeliruan diharapkan dapan mendeskontruksi legitimasi eropa modern. Kekuasaan tidak terbentuk secara structural, melainkan mengalir melalui masyrakat secara kapiler, kekuasaan bukan menguasai segala-galanya, melainkan berasal darimana-mana.

Edward said dalam mengukuhkan teorinya tentang orientailisme meminjam teorinya michel pucho tentang bias-bias kekuasaan. Pucho dalam mendefinisikan kekuasan tidak hanya memusatkan pada penjajah, dan kaum pribumi menjadi pinggiran karena dijajah. Ia berspekulasi bahwa kekuasaan bersifat netral bisa datang dari mana saja termasuk dari kaum pinggiran atau yang dijajah. Setelah itu ia meminjam deskontruksinya Derida, yakni dalam deskontruksinya menanyakan kembali atau merombak ulang sebuah bangunan teori terhadap teks ataupun wacana dibangun yang sifatnya pluralism. Dalam hal ini bukan deskontruksinya yang menjawab permasalahan yang ada akan tetapi bangunan teori itu yang dirombak ulang menjadi bangunan baru dan dekontruksi seperti ini sifatnya bisa mentafsir atau menganalisis ulang teori tersebut supaya relevansinya diketemukan. menurut hemat penulis orentalisme merupakan sebuah teori yang sangat relevan dalam mengkaji kebudayaan barat dan timur secara global karena terdapat empat pokok dalam teori ini yang menjadi kajianya yakni tentang aspek kultural, aspek intelektual, aspek moral, dan aspek politik. dan itu semua merupakan sebuah kajiaan yang hampir mengena dalam kehidupan manusia di era kekiniaan.

0 komentar:

Poskan Komentar