Kajian Semiotik Riffaterre Dalam Puisi Zuhair bin Abi Salma

A.    Latar Belakang Masalah
Puisi adalah salah satu bentuk karya sastra yang memiliki banyak makna dan makna yang terkandung dalam puisi memiliki lautan makna tergantung pembaca ingin menggunakan teori  apa untuk membedah makna tersebut. Puisi merupakan ungkapam perasaan penulis yang diterjemahkan dalam susunan kata-kata yang membuat bait-bait berirama dan memiliki makna yang dalam. Dari segi penulisan, puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat, dan diberui irama dengan bunyi yang padu dan pemlihan kata-kata kias atau imajinatif. Dari definisi diatas tampak jelas bahwa pemlihan atau penggunaan kata-kata dalam puisi bukan merupakan kata-kata yang biasa kta gunakan dalam percakapan sehari-hari. Dalam puisi menggunakan kata yang memiliki kekuatan dalam pengucapannya dan juga makna yang luas. Kata berkonotasi merupakan  kata yang sering digunakan dalam puisi. Hal ini menyebabkan puisi menjadi lebih susah dimengerti karena ada makna yang harus dibongkar berdasarkan pemikiran penyair.


Dalam puisi juga harus ditemukan tema atau permasalahan yang diangkat, perasaan sang penulis, dan terakhir adalah amanat yang ingin disampaikan. Terkadang kita harus mengetahui dahulu latar belakang si penulis agar tidak salah mengartikan. Membaca atau mendengar puisi dengan penghayatan yang sungguh-sungguh dapat memberikan pemahaman puisi secara mendalam, merasakan apa yang ditulis dan mempu menyerap nilai-nilai yang terkandung di dalam puisi serta menghargai puisi sebagai karya seni dengan keindahan dan kelemahannya. Proses berpikir untuk dapat memahami keindahan dsuatu puisi ini justru menyebaban puisi tidak digemari. Hal ini berkaitan dengan perkembangan masyarakat akhir-akhir ini yang cenderung menyukai hal-hal instan atau cepat mendapatkan hasil.

Puisi dalam penyajian bentuk buku yang berisi puluhan puisi akan menjadi sangat monoton atau bisa dikatakan membosankan bagi pembaca yang belum bias menikmati puisi. Oleh karena itu supaya kehadiran puisi bisa memberikan warna ditengah-tengah masyarakat, maka perlu ada kajian terhadap puisi itu sendiri guna memberikan penjelasan yang mendalam kepada masyarakat dan menarik minat masyarakat terhadap puisi itu sendiri. puisi tersebut akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotik model riffaterre berdasarkan pembacaan heuristic dan hermeneutiknya. Aktivitas pemaknaan secara semiotik dilakukan melalui dua tahap pembacaan, yakni pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi bahasa, yakni menurut sistem semiotik tingkat pertama. Pembacaan heuristik ditujukan untuk menemukan arti bahasanya. Pembacaan heuristik dalam hal ini adalah pembacaan tata bahasa ceritanya, yaitu pembacaan dari awal sampai akhir cerita secara berurutan. Pembacaan hermeneutik adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra, yakni menurut system semiotik tingkat kedua. Pembacaan dilakukanhan untuk menemukan petanda-petanda atau makna karya sastra.

B.    Rumusan Masalah
Pentingnya melakukan penelitian terhadap puisi karya Zuhair bin Abi Salma tersebut tidak hanya demi mengembangkan sastra, tetapi juga untuk menjawab sejumlah masalah yang ada.masalah pokok yang perlu diuraikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.    Bagaimana kandungan makna puisi Zuhair bin Abi Salma tersebut berdasarkan pembacaan heuristik dan hermenetik?
2.    Bagaimana model bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut?
3.    Bagaimana hubungan antara puisi tersebut dengan puisi lain?

C.    Tujuan

Berdasarkan rumusan masalah yang dkemukakan diatas, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.    mengungkap makna yang terkandung pada puisi Zuhair bin Abi Salma berdasarkan pembacaan heuristic dan hermenetik.

2.    Mengungkap model bahasa yang terdapat dalam puisi Zuhair bin Abi Salma.

3.    Mencari dan menemukan hubungan puisi Zuhair bin Abi Salma dengan teks lain.

D.    Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfa’at kepada pembaca, khususnya pembaca dibidang sastra berupa pemahaman mengenai kandungan makna puisi Zuhair bin Abi Salma berdasarkan pembaca heuristic dan hermeneutic, dan model bahasa yang terdapat dalam puisi tersebut, dan hubungan intertekstual puisi Zuhair bin Abi Salma dengan teks lain.

Manfa’at lan dari hasil penelitian ini adalah pembaca diharapkan mendapat pemahaman bahwa karya sastra lisan, khususnya puisi menarik untuk diteliti secara ilmiah dari aspek semiotik. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat bermanfa’at sebagai bahan rujukan atau bahan perbandingan untuk penelitian sejenis yang dilakukan terhadap karya sastra lan.

E.    Landasan Teori
Karya sastra hadir dalam dua bentuk, yakni sastra lisan dan sastra tulis. Teeuw mengemukakan bahwa sastra tulis tidak mengemukakan komunikasi secara langsung antara pencipta dan pembaca sedangkan sastra lisan biasanya berfungsi sebagai sastra yang dibacakan atau yang dibawakan bersama-sama.

Semiotik adalah ilmu tentang tanda-tanda. Ilmu ini berpandangan bahwa fenomena sosial dan budaya pada dasarnya merupakan himpunan tanda-tanda. Semiotik mengkaji sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut memiliki arti. Dua tokoh penting perintis ilmu semiotika modern, yaitu charles shanders peirce (139-1914) dan ferdinand de saussure (1857-1913) mengemukakan beberapa pendapat mereka mengenai semiotik. Saussure menempilkan semiotik dengan membawa latar belakang ciri-ciri linguistik yang diistilahkan dengan semiologi, sedangkan pierce menampilkan latar belakang logka yang diistilahkan dengan semiotik. Pierce mendudukan semiotik pada berbagai kajian lmiah. Dalam penelitian ini, konsep semiotic yang akan digunaan adalah konsep yang didasarkan pada pemikiran riffaterre. Hal ini didasarkan pada pertimbangan bahwa konsep semiotic yang dikembangkan oleh riffaterre, penulis anggap lebih tepat diterapkan dalam penelitian ini.

Mengenai Puisi Riffaterre menganggap bahwa sebenarnya ia merupakan suatu aktivitas bahasa. Dalam puisi ada ‘sesuatu’ yang ingin disampaikan, ada pesan yang ingin diungkapkan. Dengan kata lain, puisi berbicara tentang ‘sesuatu’ tertentu. Akan tetapi, dalam menyampaikan atau membicarakan sesuatu tersebut, puisi menggunakan maksud yang lain, puisi berbicara secara tidak langsung. Sebenarnya bahasa yang digunakan dalam puisi pun adalah bahasa sehari-hari. Namun demikian, tatanan dan ‘bentuk’ penghadiran bahasa puisi berbeda dengan bahasa umum sehari-hari.Dalam kaitannya dengan konsep estetik bahasa puisi, Riffattere (1978:1) mengungkapkan ada satu ciri penting dalam puisi, yaitu bahwa “puisi mengekspresikan konsep-konsep dan benda-benda secara langsung. Sederhananya, puisi mengatakan satu hal dengan maksud hal lain.” Hal ini pula yang membedakan bahasa puisi dengan bahasa umum, bahasa sehari-hari.

Ada tiga hal yang memengaruhi terjadinya keberbedaan wujud atau penggunaan bahasa dalam puisi dengan penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, yang menimbulkan ketidaklangsungan semantik dalam puisi. Ketiga hal tersebut seperti diungkapkan Riffaterre (1978:2) adalah pertama penggantian arti (displacing of meaning), kedua pemencongan atau penyimpangan atau perusakan arti (distorting of meaning), dan ketiga adalah penciptaan arti (creating of meaning). Riffaterre selanjutnya menjelaskan bahwa displacing terjadi manakala suatu tanda bergeser dari makna yang satu ke makna yang lain, manakala suatu kata “mewakili” kata yang lain. Pada perilaku ini bisaanya terjadi oleh adanya perilaku metafora dan metonimi. Distorting terjadi disebabkan oleh adanya ambiguitas, kontadiksi, ataupun nonsense. Sedangkan creating terjadi disebabkan oleh adanya pengorganisasian ruang teks. Dengan kata lain, creating of meaning terjadi ketika ruang (kosong) tekstual berfungsi sebagai suatu prinsip organisasi untuk membuat tanda-tanda dari unsur-unsur linguistik yang mungkin tidak bermakna, seperti misalnya simetri, rima, atau ekuivalensi semantik antara homolog-homolog dalam suatu stanza. Pradopo menyebutkan bahwa penciptaan arti disebabkan oleh adanya pengorganisasian ruang teks, yang di antaranya melalui enjambemen, sajak, tipografi, dan homolog.

Sebagai ekspresi bahasa, puisi hanya dapat dipahami oleh pembaca yang memahami atau menguasai konvensi bahasa. Tanpa adanya penguasaan terhadap konvensi suatu bahasa, pembaca (puisi) tidak mungkin dapat (atau akan mengalami kesulitan) menangkap pesan yang ada di baliknya. Sebagai fenomena sastra, bagaimanapun puisi merupakan suatu dialektika antara teks dengan pembaca. Puisi pun hakikatnya adalah sebuah teks, yaitu suatu satuan yang tertutup. Kaitannya dengan bahasan di atas adalah bahwa seorang pembaca puisi, dalam arti untuk dapat menangkap makna atau pesan, harus dapat membongkar bentuk-bentuk ketidaklangsungan semantik yang ada dalam puisi.

F.    Pendekatan
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan semiotik. Hal itu dilakukan mengingat bahwa semiotik merupakan suatu pendekatan yang menekankan pada aspek penggalian makna terhadap tanda dalam suatu karya sastra. Endraswara menyebutkan bahwa tanda sekecil apa pun dalam pandangan semiotik tetap diperhatikan. Pendekatan semiotik yang akan dipakai adalah semiotik model Michael Riffaterre. Pendekatan semiotik model Riffaterre dipakai berdasarkan pertimbangan bahwa semiotic Riffaterre lebih mengkhususkan pada analisis puisi. Puisi Zuhair bin Abi Salma adalah salah satu jenis puisi lama, oleh karena itu pendekatan semiotik yang lebih tepat digunakan adalah pendekatan semiotik Riffaterre.

Berkaitan dengan hal tersebut, seorang pembaca (reader) harus bergerak maju, lebih jauh, pada pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra. Riffattere menyebut untuk istilah ini dengan pembacaan hermeneutic, yaitu pembacaan menurut system semiotik tingkat kedua atau second order semiotiks system. Pembacaan hermeneutik disebut juga sebagai pembacaan retroaktif. Pembacaan ini diperlukan sebagai langkah solusi untuk melewati rintangan yang muncul pada tahap pembacaan yang pertama, yaitu pembacaan heuristik. Rintangan tersebut sebenarnya adalah berupa penyimpangan kode bahasa, penyimpangan dari makna bisaa menjadi makna yang ‘tidak bisa’ pada bahasa puisi. Untuk istilah ini menyebutnya dengan sebutan ungramatikalitas (ungrammaticality) Ungramatikalitas adalah merupakan salah satu bentuk distorsi pada representasi literer atas realitas atau mimesis yang hadir pada ketidaklangsungan semantik puisi. Ada hal lain memang, sebagai bentuk ancaman representasi literer terhadap realitas ini, yaitu pengubahan secara visible dan persisten atas representasi dengan suatu cara yang tidak konsisten atau dengan apa yang diharapkan oleh pembaca. Maka, jika pada tahap pembacaan heuristik seorang pembaca akan (masih) mengalami sandhungan serta memiliki pemahaman yang (cenderung) beraneka-ragam, melalui pembacaan hermeneutik ini seorang pembaca akan dapat memeroleh kesatuan makna puisi yang dibacanya.

Riffattere mengungkapkan ciri dasar mimesis adalah produksi rangkaian semantik yang selalu berubah. Hal ini dipengaruhi oleh representasi itu didirikan di atas referensial bahasa, yaitu di atas relasi langsung antara kata-kata (sebagai bentuk atau referensial bahasa) dengan benda tertentu. Hal ini tentu erat kaitannya dengan teks. Sementara itu, teks sendiri selalu melakukan pelipatgandaan detail-detail dan kemudian mengubah fokusnya demi mencapai kesamaan agar dapat diterima dengan realitas. Hal ini tentu mengingat sifat realitas itu sendiri yang sangatlah kompleks. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa sesungguhnya mimesis itu merupakan variasi dan multiplisitas.

Selanjutnya, ciri khas puisi adalah kesatuan, baik kesatuan formal maupun kesatuan semantik. Maka dengan demikian, komponen-komponen puisi yang menunjuk pada ‘sesuatu yang lain’ tentu saja akan menjadi sesuatu yang konstan, yang tetap dan tidak akan berubah. Dengan melihat ciri ini maka jelaslah bahwa komponen-komponen di dalam puisi ini berbeda dengan mimesis. Kesatuan formal dan semantik itu kemudian disebut sebagai signifikansi.

Jika Riffattere mengibaratkan puisi dengan donat, dengan komponen strukturnya daging donat dan ruang kosong yang menopang donat sebagai dua komponen yang tak terpisahkan, saling mendukung dan saling memberi arti, yang mana justru ruang kosong yang ada di bawah atau di dalam daging donat itulah yang kemudian menopang arti dia disebut sebagai donat. Maka demikian pula dengan puisi, ruang kosong dalam puisi, sesuatu yang tidak hadir dalam teks puisi, tetapi (justru) sebenarnya dialah yang menopang lahir dan ada atau dapat disebutnya sebagai puisi itulah tujuan ‘sesuatu’ yang harus dicapai dalam ‘pembacaan’ puisi. Apa sebab? Di sanalah sebenarnya makna puisi yang dikaji berada. Dialah yang menentukan terbentuknya puisi, menentukan makna puisi.

Karya sastra oleh Riffattere dipandang sebagai suatu bentuk respons atas karya sastra lain , maka kemudian yang penting dalam analisis atau pencapaian makna puisi adalah respon puisi tersebut. Tugas pembaca adalah menemukan dan menafsirkan response yang terkandung dalam puisi tersebut (Teuuw 1983). Satu prinsip yang penting dalam kaitan dengan ini, yang diungkapkan oleh Riffattere adalah prinsip intertekstualitas: bahwa karya sastra memiliki hubungan dengan karya yang lain. Seorang pembaca puisi akan dapat memperoleh makna puisi secara lengkap (penuh) atas puisi yang dibacanya jika dapat menemukan hubungan (pertentangan)-nya suatu karya sastra dengan karya sastra yang lain. Untuk hal ini Riffattere menyebutnya dengan istilah hipogram. Hipogram ini merupakan latar penciptaan karya sastra itu sendiri; merupakan tulisan dasar untuk penciptaan baru, dengan memutarbalikan esensi, amanat karya sebelumnya. Teeuw (1983: 65) menyebutkan bahwa latar penciptaan karya sastra bisa meliputi masyarakat, perstiwa dalam sejarah, ataupun alam dan kehidupan. Satu hal yang perlu dicermati oleh pambaca sastra adalah bahwa intertekstualitas sama sekali tidak perlu berdasarkan niat eksplisit atau kesengajaan seorang penyair; bahkan seringkali seorang penyair tidak menyadari hipogram yang menjadi latar karyanya.

Lebih lanjut Riffaterre membedakan hipogram menjadi dua macam, yaitu hipogram potensial dan hipogram aktual. Hipogram potensial adalah hipogram-hipogram yang tampak, yang terkandung dalam bahasa yang digunakan dalam karya sastra, segala bentuk implikasi dari makna kebahasaan yang telah kita pahami. Hipogram ini bisa berbentuk presuposisi, sistem deskripsi, makna konotasi, dan lain-lain. Untuk mengetahui bentuk implikasi tersebut kita tidak perlu mencarinya dalam kamus. Kita tentu saja tidak dapat menemukannya di dalam kamus, melainkan sebenanya bentuk implikasi tersebut telah ada dalam pikiran kita masing-masing. Sementara hipogram aktual adalah hipogram yang berupa teks-teks yang telah dihadirkan sebelumnya.

Seperti halnya hipogram dari atau dalam puisi, yang berupa ruang kosong yang menopang terbentuknya puisi, maka hakikatnya ruang kosong dalam puisi itu, sesuatu yang tidak hadir secara tekstual tetapi merupakan penopang adanya puisi, itu sesungguhnya adalah pusat makna dari sebuah puisi. Dengan demikian kita bisa mengetahui justru betapa penting ruang kosong, sesuatu yang tidak dihadirkan secara tekstual dalam puisi itu, karena ia adalah pusat makna yang akan dan penting untuk ditemukan. Riffaterre menyebut pusat makna ini sebagai matriks. Oleh karena matriks ini tidak pernah hadir di dalam teks, maka tentu saja kita tidak dapat menemukannya, melihatnya dalam teks-teks puisi. Sesuatu yang dapat kita lihat dalam teks puisi hanyalah aktualisasi, yaitu model sebagai bentuk aktualisasi pertama dari matriks tersebut, yang ini pun masih akan diaktualisasi ke dalam bentuk aktualisasi kedua yaitu varian.

Oleh karena matriks, seperti halnya hipogram, adalah ruang kosong, pusat makna yang mesti kita temukan, sementara kita tidak dapat menemukannya dalam teks-teks puisi, melainkan hanya aktualisasinya, maka dengan demikian untuk dapat menemukan atau menangkap pusat makna ini mau tidak mau kita harus melakukan langkah pemaknaan dengan tahap-tahap pembacaan aktualisasi-aktualisasi tersebut. Dari langkah kerja tersebut akhirnya kita bisa menangkap makna serta hipogram dari puisi yang kita kaji.

G.    Metode penelitian
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan, yaitu menelaah data-data uyang berupa buku-buku. Adapun data primer dari penelitian ini adalah buku nusus adabiyah, sedangkan data sekundernya adalah buku-buku sastra. Dalam ilmu sastra dikenal dua macam pendekatan, pertama pendekatan intrinsik yaitu penelitian sastra yang bersumber pada teks sastra itu sendiri secara otonom. Kedua pendekatan ekstrinsik yaitu penelitian unsur-unsur luar karya sastra, pengkajian kontks karya sastra siluar teks

H.    Telaah pustaka
Tinjauan pustaka sangat penting dilakukan oleh seorang peneliti sebelum melakukan penelitian. Sebagaimana terkait dengat semiotok riffaterre dalam puisi karya Zuhair bin Abi Salma, tinjauan pustaka dilakukan supaya peneliti mengetahui apakah objek penelitian yang akan dilakukan pernah diteliti atau belum. Sejauh ini, penelitian terhadap puisi karya Zuhair bin Abi Salma masih jarang dilakuan, oleh karena itu penulis sengaja melakukan penelitian ini agar pemahaman masyarakat terhadap puisi karya Zuhair bin Abi Salma bisa lebih mendalam.

I.    Sistematika Penulisan
Untuk mndapatan sebuah tulisan yang sistmatis, penulis membagi pembahasan ini kedalam beberapa bab. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut :

Bab I : pendahuluan. Pada bab ini berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, kerangka teori, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II : lampiran puisi karya Zuhair bin Abi Salma dan tinjauan pustaka. Dalam bab ini dijelaskan apakah penelitian yang dilakuan oleh peneliti adalah merupakan lanjutan dari peneliti yang lain ataukah belum diteliti sama sekali. Selain itu, pada bab ini akan diuraikan gambaran latar belakang kondisi penyair saat menuliskan sya’irnya.

Bab III : interpretasi puisi Zuhair bin Abi Salma menurut teori semiotik riffaterre. Dalam bab ini puisi tersebut akan dianalisis dengan menggunakan pendekatan semiotik model riffaterre.

Bab IV : penutup, terdiri dari kesimpulan dan saran-saran.


      Daftar Pustaka
    Fotokopy, Aning ayu kusumawati, S.Ag. M.Si.

    http://forums.fatakat.com/thread288552
    Uniawati : Interpretasi Semiotic Riffaterre, Semarang 2007

    http://bensuseno.wordpress.com/2008/12/29/semiotika-riffaterre-metode-pemaknaan-sastra-baca-puisi/

   Endraswara suwardi : metodologi penelitian sastra, MedPress Yogyakarta.

0 komentar:

Poskan Komentar